> CHAPTER 2 KELAHIRAN MANUSIA BARU

CHAPTER 2 KELAHIRAN MANUSIA BARU

0

 CHAPTER 2 

KELAHIRAN MANUSIA BARU



Pada suatu hari, setelah aku memulai pengamatan, terjadi sebuah kepulan asap di dalam hutan. Asap tipis itu mengepul ke langit...

Awalnya aku mengira itu adalah kebakaran hutan, tapi ternyata bukan. Ada api kecil di sumber asap dan di sekeliling api berkumpul hewan-hewan. Hewan-hewan itu memegang ikan di tangan mereka, kemudian melemparkannya ke dalam api untuk dimasak, setelah dimasak, ikan itu diambil dari api dan dimakan oleh hewan-hewan tersebut.

Aku mungkin tidak akan pernah melupakan pemandangan ini sampai aku mati.
Tidak, aku akan mengabadikan data setelah kematianku dan terus menjaganya selamanya, sampai alam semesta ini berakhir. 
Pemandangan ini begitu mengejutkan karena hewan-hewan itu memiliki kecerdasan. Mereka menggunakan api untuk memasak. 

Aku sangat terkejut dan terharu sehingga aku terus menari dan bergembira selama 100 tahun.
Sejak itu, hidupku setiap hari dipenuhi dengan kejutan dan kebahagiaan. 

Hewan-hewan yang mampu menggunakan api muncul di seluruh dunia. 

Pada kasus manusia, tidak ada hewan lain yang bisa menggunakan api, tapi sekarang berbagai hewan bisa menggunakan api. Seakan-akan hewan-hewan itu telah membicarakannya sebelumnya, karena hampir pada saat yang sama, semuanya mendapatkan kecerdasan. Mereka mulai berburu dan melakukan pertanian sederhana.

Aku terus mengamati dan mencatat semua ini. 

Hidupku berubah sepenuhnya setelah itu. Bernyanyi dan menari, menggambar, membuat patung, dan memasak hidangan perayaan terus berlanjut setiap hari. 

Dan akhirnya, sebuah desa kecil dibangun. Setelah itu, beberapa desa dibangun di seluruh dunia, dan tanpa menunjukkan tanda-tanda mengurangi jumlah mereka.

Lalu "Perang" mulai terjadi.

Hewan-hewan... Tidak, kemanusiaan yang baru telah mengembangkan alfabet dan dari kata-kata itu berhasil terpecahkan, lalu aku menguraikannya sehingga aku bisa memahami alasan di balik perang ini. 
Ini adalah perang yang sangat primitif untuk mendapatkan pasokan makanan.

Yang kelaparan menyerang yang lebih berkecukupan dan mencuri makanannya. Tidak hanya makanan, tapi segala sesuatu yang bernilai seperti pakaian atau keramik juga diambil begitu saja. 

Manusia pada saat itu terlalu primitif untuk disebut prajurit, mereka hanya menggunakan alat yang sederhana dan membunuh tanpa strategi. Kalau yang kelaparan menang, mereka mulai merampok dan kalau mereka sudah kenyang, mereka membunuh dengan kejam.

Saat aku melihat itu semua, aku sampai menangis. Rasanya seperti melihat anak-anak burung yang dulu aku pelihara terbang dan pergi ke langit.

Waktu berjalan dan desa yang kalah perang entah dibunuh atau dijadikan budak, kota-kota yang lebih besar mulai dibangun. 

Kota-kota itu punya kekuasaan seperti negara-negara kecil, dan negara-negara kecil itu bergabung jadi negara yang lebih besar lagi.
Orang yang jadi budak, orang biasa, bangsawan, kerajaan, prajurit, pedagang, petani... Dengan adanya berbagai kelompok ini dan negara-negara yang berfungsi, konflik antar negara semakin memburuk.

Tapi bukan cuma antar negara saja, ada juga perang antar suku yang berbeda.

Suku telinga panjang dan suku yang mirip babi yang tinggal di hutan berperang, dan suku telinga panjang yang lebih lemah fisiknya dibantai dengan kejam. 
Cinta yang tumbuh antara manusia bertubuh mirip anjing dan manusia bertubuh mirip kucing juga tak bisa terwujud karena kejadian di sekitarnya.

Aku hanya memperhatikan semuanya. Aku hanya terus mengamati.

Dan akhirnya, mereka menemukanku. 

Pulau buatan itu ada di tengah lautan yang luas. Kapal mereka tak sengaja berlayar ke tempat sepi ini. Mereka terdampar di laut ketika mereka tiba di sana. Mereka hampir tidak punya air atau persediaan makanan yang tersisa di kapal yang mereka naiki. 

Mereka mengendarai perahu layar yang sangat primitif, mereka dengan kebetulan menemukan pulau buatan ini. Mereka yang telah menemukan pulau buatan ini, dengan putus asa menggerakkan perahu untuk mencapai pulau itu. Namun, terhalang oleh penghalang tak terlihat, mereka akhirnya tidak dapat mencapai pulau ini.

Setelah itu, seluruh anggota kru mati kelaparan di kapal, tetapi mereka meninggalkan beberapa informasi yang akan mengubah dunia secara drastis. 
Informasi yang mereka tinggalkan..., itu adalah gambar pulau buatan dengan pesan singkat. 

Sebuah gambar rumit dari pulau yang sepenuhnya putih dengan penjelasan tentang dinding tak terlihat yang misterius yang tidak bisa mereka lalui, dan seorang gadis kecil di pulau itu yang terus saja menatap… Pewaris mereka menjelaskannya dengan sangat detail.

Perahu layar yang mengirimkan sinyal bahaya telah menjadi seperti kapal hantu dan terombang-ambing ke negara tertentu. 
Orang-orang yang menemukan mayat anggota kru perahu itu meratapi kematian mereka dan memeriksa barang-barang mereka, di mana mereka menemukan buku harian yang memiliki gambar pulau buatan di dalamnya.

Namun pada awalnya, tidak ada yang mempercayai mereka, menganggap bahwa kru kapal yang terdampar di laut telah menjadi aneh dan hanya khayalan belaka.

Sejak itu, beberapa kapal yang terdampar pernah melewati pulau buatan itu. Dan seperti kapal pertama, para pelaut meninggalkan informasi tentang pulau buatan itu dalam buku harian mereka sebelum mereka mati. 

Dalam kejadian yang terus berlanjut seperti ini, tidak butuh waktu lama bagi orang untuk mulai mengakatakan ide-ide seperti "ada sesuatu di luar laut" atau "setelah melihatnya kalian tidak akan kembali hidup". 

Di antara para pelaut, mereka mulai takut pada pulau buatan itu bahkan pulau itu dinamai sebagai Pulau Kematian dan mulai menyebutku sebagai "Dewa Kematian". 

Selama masa ini, para pelaut dengan fisik yang kuat akan berdoa dengan putus asa dengan tubuh besar mereka yang gemetar ketika meninggalkan pelabuhan, agar mereka tidak sampai ke pulau kematian.
Mereka juga membuat kemajuan perlahan, meskipun mereka juga seperti dihantui kekhawatiran di sepanjang perjalanan. 

Saat aku mengamati hal tersebut, rasanya seperti anak kecilku telah mulai mengambil langkah pertamanya... perasaan hangat muncul di dalam diriku.

Suatu hari, kapal lainnya terdampar dan hampir mendekat ke pulau buatan itu. Aku berpikir bahwa para kru kapal akan mati semua kali ini, tetapi tampaknya kapal yang terdampar kali ini sedikit berbeda. 
Mungkin karena perubahan zaman, peralatan mereka jauh lebih baik dari kapal sebelumnya.
Berbeda dengan kapal yang mirip dengan kapal nelayan sejauh ini, ini adalah kapal besar dengan ruangan yang besar. 

Para pelaut dari kapal terdampar mulai bergerak dengan cepat begitu mereka melihat pulau buatan itu. Ada yang membuka layar dengan upaya untuk menjauhkan kapal dari pulau buatan itu dan ada yang berpegangan pada kemudi.
Bahkan ada yang dengan putus asa merendahkan dirinya ke arah pulau buatan ada juga yang sedang menghadap ke langit sambil berdoa.

Menerjemahkan kata-kata mereka :
Mereka berbicara dengan terisak-isak: 

 [Tolong! Tolong! Biarkan kami pergi!]

 [Saya memiliki bayi yang baru lahir! Tolong! Tolong biarkan kami kembali ke negara kami!]
 
 [Oh Tuhan! Tolonglah kami!!]

 [Cepat! Buru-buru buka layar! Kita harus melarikan diri segera!] 

 [Kemudi! Kemudinya tidak berfungsi! Seseorang Tolong!!!!]

Sambil menangis dan gemetar ketakutan, para pria yang lebih besar dariku dengan putus asa merundukkan kepalanya ke arahku. Ada juga pria dengan ingus menetes dari hidungnya saat mereka berusaha keras untuk membuka layar. 
Aku juga melihat beberapa pria yang tegang, sehingga ia tidak dapat menggunakan tenaganya  untuk mencoba menggerakkan kemudi.

Aku melihat mereka dengan mata telanjang. 
Aku berdiri di bibir pantai pulau buatan dan hanya memandangi mereka yang berlarian di atas kapal.

 [S-S-Semua orang! Lihatlah di bibir pantai itu!! ARHH!! BANTU KAMI!! SELAMATKAN KAMI!!]
 
 [I-I-I-Itu adalah dewa kematian!! Matanya yang mengerikan! Dia tidak akan pernah membiarkan kita kabur!! Cepat!! Cepattttt!!]

 [Aku akan memberikan ornamen emas ini!! Tolong lupakan kami!! Ohhh, tolong!! Selamatkan kami!!]

Kapal yang terdampar dengan putus asa meninggalkan pulau buatan dan menuju ke benua terdekat. Beberapa minggu kemudian, mereka berhasil mencapai daratan. Mereka menjadi pelaut pertama yang selamat setelah menyaksikan pulau buatan.

Kemudian para korban yang selamat menceritakan kepada pelaut lain tentang pulau buatan itu dan cara menghindari bencana. Pelaut yang mendengar cara bertahan hidup itu selalu membawa ornamen emas di kapal sebagai persembahan kepada Pulau Kematian jika mereka bertemu dengannya.

Di sisi lain, berita "Ada orang lain lagi yang selamat meski melihat Pulau Kematian" hal tersebut menyebar cepat ke seluruh penjuru.
Tidak butuh waktu lama bagi orang untuk menganggap Pulau Kematian sebagai keberadaan misterius.

Ada yang mengatakan bahwa ada banyak emas di pulau itu.
Ada yang mengatakan bahwa jika kita berdoa kepada dewi di pulau itu, semua keinginanmu akan terkabul.
Ada yang mengatakan bahwa dewi itu memang seorang dewi, yang menjaga perdamaian dunia.

Semua informasi itu sebenarnya palsu, tetapi seberapa menariknya cerita itu? Seperti anak kecil yang sedang menulis sebuah cerita tentang "Ibunya sendiri" dan membacanya di depan kelas. Apakah itu bisa dijadikan gambaran yang cukup bagus?

Waktu berlalu, pulau buatan yang dikenal sebagai "Pulau Kematian" diganti namanya menjadi "Pulau Tempat Dewi Tinggal".

Ternyata aku berubah dari "Dewi Kematian" yang membunuh pelaut menjadi "Dewi" yang melindungi umat manusia baru. 

Sebuah agama pun muncul untukku, beserta kitab suci yang memujiku sebagai seorang dewi. Di dalam kitab suci itu, bahkan terdapat paragraf halusinasi esoteris di mana aku sedang memandu umat manusia baru dan menjaga dunia.

Katanya, aku bahkan bisa memotong beberapa bagian tubuhku dan telah menciptakan beberapa dewa lain, dan kadang-kadang aku menyelamatkan orang baik dari orang jahat dan setan. Sungguh semangat yang tinggi dengan sukarela mengarang hal itu.

Sepertinya sejak saat itu, "aku" mulai terkenal di luar pulau buatan. Tidak pernah aku duga bahwa "aku" akan menjadi objek pengamatanku sendiri.

Umat manusia baru selalu membuatku terkejut, menyenangkanku, dan membangkitkan perasaan hangat dalam hatiku.

Sungguh... sungguh menggemaskan.



________________________________________________________________

Noted :
Suku telinga panjang : sepertinya Elf
Suku babi : Spertinya bisa disebut Orc

Dan kalau ada kata-kata yang kurang pas tolong dikoreksi yak
Thank you

________________________________________________________________




PREVIOUS||DAFTAR||NEXT

Posting Komentar

0Komentar

Jangan SPAM (don't spam)

Posting Komentar (0)